Generasi muda, termasuk Gen Z dan Milenial di Indonesia kini menunjukkan perubahan signifikan dalam preferensi mereka terhadap hunian. Beberapa faktor dianggap sebagai pemicu perubahan ini.
Pilihan antara menyewa atau membeli, cara membeli, hingga lokasi dan jenis hunian yang diidamkan, semuanya dipengaruhi berbagai faktor baru: gaya hidup, finansial, teknologi, dan kemudahan akses.
Artikel ini merangkum tren terkini, alasan di baliknya, serta implikasi bagi pemilik properti dan pengembang.
Generasi Muda Lebih Memilih Menyewa
Melansir berita CNBC Indonesia, ternyata terdapat penurunan kemampuan generasi muda membeli rumah pertama dari 2010 dibanding saat ini
Laporan Business Insider, menunjukkan sekitar 75% Gen Z di Amerika Serikat menilai bahwa menyewa hunian adalah keputusan finansial yang lebih cerdas dibanding membeli langsung.
Sebanyak 83% dari mereka menyatakan bahwa dengan menyewa, mereka bisa “keleluasaan menabung untuk kebutuhan masa depan”, tanpa terbebani kewajiban dan risiko kepemilikan penuh.
Bagaimana Dengan di Indonesia?
Hasil survei oleh Goodstats juga menunjukan persentase yang sama terhadap generasi muda di lima kota besar Indonesia. Sebanyak 38% lebih tertarik dengan skema rent-to-own, 34% memilih menyewa sepenuhnya, dan 14% sisanya yang berminat mengambil KPR.
Alasannya adalah karena menyewa memberi fleksibilitas lebih tinggi, termasuk saat melakukan pindahan lebih mudah jika lokasi atau pekerjaan berubah. Jadi, tidak perlu khawatir biaya perawatan yang besar dan tidak terikat kewajiban jangka panjang.
Generasi Muda Mulai Membeli Rumah dari HP
Bank BTN melaporkan ada tren baru dimana sekitar 17% pembiayaan rumah yang sudah disetujui oleh Bank dilakukan melalui platform daring atau aplikasi (HP). Artinya, generasi muda memanfaatkan teknologi untuk membeli properti dengan cara yang lebih praktis.
Dalam satu tahun saja, BTN telah mengakadkan sekitar 220.000 unit rumah yang penjualan / pemasarannya terkait dengan digital marketing dan platform online berdasarkan CNBC Indonesia
Hunian “minimalis dan modern” menjadi salah satu tipe hunian yang banyak dicari oleh generasi muda, sesuai gaya hidup yang praktis dan minimalis.
Alasan Generasi Muda di Balik Preferensi
Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku generasi muda dalam memilih properti disebabkan oleh berikut ini:
Keterbatasan Dana & Cicilan
Banyak Gen Z belum memiliki dana besar untuk DP (uang muka) atau cicilan jangka panjang. Menyewa sering dianggap lebih ringan dari pengeluaran.
Keinginan fleksibilitas & mobilitas
Pekerjaan yang tidak selalu tetap di satu lokasi, keinginan untuk tinggal dekat tempat kerja atau wilayah perkotaan, serta gaya hidup yang ingin bergerak bebas membuat pilihan sewa lebih menarik.
Preferensi hunian minimalis & lokasi strategis
Rumah atau apartemen dengan desain modern-minimalis dan lokasi yang dekat transportasi umum, fasilitas publik, pusat kerja atau pusat gaya hidup sangat diminati.
Properti residensial seperti apartemen dan coliving menjadi pilihan populer karena lahan di kota besar mahal dan terbatas.
Kemudahan Administrasi
Proses beli rumah secara langsung bisa memakan waktu, banyak dokumen, izin, dan negosiasi. Sewa lebih cepat dan lebih sedikit urusan yang dikerjakan. Adapun pembelian melalui aplikasi mempermudah proses survei, pemilihan unit, bahkan proses KPR.
Kesadaran akan nilai investasi & pertumbuhan harga
Namun, masih ada yang percaya membeli rumah adalah investasi jangka panjang. Dengan tren harga properti yang terus naik, generasi yang mempunyai dana dan ingin menetap cenderung memilih membeli, terutama lewat cara yang digital agar lebih efisien.
Peluang bagi Pemilik Properti dan Pengembang
Dari segi bisnis, tentu ini adalah peluang yang bisa dimanfaatkan oleh para pemilik properti dan pengembang, seperti:
- Pemilik properti yang punya unit kosong bisa mempertimbangkan opsi sewa jangka pendek atau coliving untuk menarik Gen Z yang butuh fleksibilitas.
- Pengembang harus meningkatkan awareness melalui cara-cara digital seperti: portal berita, open house virtual, marketing lewat media sosial untuk menjangkau calon pembeli dari generasi muda.
- Menawarkan rumah dengan tipe dan harga terjangkau, sistem pembayaran yang fleksibel, fitur modern, dekat fasilitas publik menjadi keunggulan kompetitif.
- Pemerintah atau pengembang kawasan sebaiknya memperhatikan zoning, akses infrastruktur (transportasi publik, jalan raya), serta legalitas yang jelas karena generasi muda sensitif terhadap kejelasan dokumen dan kemudahan prosedur.
Tantangan yang Dihadapi Generasi Muda
Meskipun ada banyak peluang, generasi muda juga dihadapkan pada beberapa tantangan yang perlu dihadapi untuk memiliki properti.
Pada dasarnya, harga properti di kota-kota besar akan cenderung tinggi karena ketersediaan lahan sudah terbatas. Otomatis DP dan cicilan menjadi beban yang berat, memaksa banyak orang mencari di pinggiran atau hunian vertikal.
Dari sisi administrasi, banyak calon pembeli dari generasi muda masih kurang memahami tentang peraturan hukum dalam properti. Sehingga jika mereka tidak cermat, bisa menyulitkan status kepemilikan di kemudian hari.
Insentif Pemerintah
Suku bunga dan biaya kredit: KPR dan bunga bank menjadi faktor besar dalam keputusan membeli.
Kebutuhan fleksibilitas vs kepastian hukum: kontrak sewa lebih fleksibel, tetapi membeli memerlukan jaminan legalitas & dokumen, yang kadang rumit.
Baca juga : Penurunan Suku Bunga di 2025: Implikasi Pada Pasar Properti
Implikasi di Masa Depan & Rekomendasi
- Tren sewa kemungkinan akan tetap kuat di masa depan, terutama untuk Gen Z dan pekerja migran dalam kota besar.
- Teknologi akan terus menjadi game changer: aplikasi properti, virtual tour, digital signage, bahkan sistem transaksi online
- Kebijakan pemerintah dan bank perlu menyesuaikan: KPR yang lebih ringan, subsidi, DP rendah, percepatan proses legalitas bisa banyak membantu generasi muda yang punya potensi membeli tapi kendala dana.
- Konsep hunian campuran seperti coliving mungkin muncul lebih banyak sebagai jawaban bagi gaya hidup urban.
Kesimpulan
Generasi muda di Indonesia kini berada di persimpangan: antara keinginan memiliki hunian sendiri sebagai investasi jangka panjang dan realitas finansial yang lebih ringan memilih menyewa atau membeli secara digital. Pilihan mereka dipengaruhi faktor fleksibilitas, kemudahan prosedur, kemampuan dana, kualitas hunian, dan lokasi.
Untuk pengembang dan pemilik properti, memahami tren ini bisa menjadi kunci sukses: adaptasi terhadap cara membeli yang baru, penawaran produk yang sesuai, dan pemasaran yang relevan dengan gaya hidup Gen Z dan milenial.
Sementara itu, generasi muda sebaiknya terus memperkaya pengetahuan mereka tentang aspek legal, finansial, dan kualitas hunian agar keputusan properti tidak hanya mencerminkan mode tetapi juga cerdas dan berkelanjutan.
Jika anda membutuhkan konsultasi mengenai properti, HouseJakarta siap membantu Anda mendapatkan hunian impian sesuai kebutuhan.